3 Jenis Pakaian Adat Bali beserta Ciri Khas, dan Filosofis Baju Adat Bali

3 Jenis Pakaian Adat Bali beserta Ciri Khas, dan Filosofis Baju Adat Bali

Bali ternyata miliki beberapa baju adat, lo, Parents. Masing-masing baju kebiasaan Bali itu digunakan untuk keperluan acara yang berbeda. Mulai berasal dari acara adat, sembahyang, hingga aktivitas sehari-hari. Berikut ini nama 3 baju kebiasaan Bali berikut manfaat dan filosofi yang terkandung di dalamnya. klik disini

1. Pakaian Adat Bali Payas Agung

Dalam web formal Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, dijelaskan tentang jenis-jenis baju kebiasaan tradisional Bali. Buku Tata Rias Pengantin Bali (terbitan Gramedia Pustaka Utama, 2020) karya Dr. Dra. A.A. Ayu Ketut Agung, M.M. dan Ade Aprilia terhitung menyatakan bahwa baju kebiasaan Bali terbagi dalam tiga tingkatan. Yaitu:

  • Payas Agung
  • Payas Madya
  • Payas Nista

Baju kebiasaan tradisional Bali Payas Agung berasal berasal dari Kabupaten Buleleng di mana tampilannya jauh lebih menawan dan mewah berasal dari baju tradisional Bali lainnya.

Pada masa Kerajaan Badung, Payas Agung tertentu digunakan untuk keluarga kerajaan pas menghadiri beraneka acara adat. Seperti, pernikahan, munggah deha (upacara kedewasaan), pitra yadnya (ngaben), mesagih (upacara potong gigi), terhitung upacara kebiasaan perlu lainnya.

Oleh gara-gara kebutuhannya yang khusus, menjadi lumrah terkecuali tampilan baju kebiasaan Bali Payas Agung lebih pribadi dibanding yang lainnya.

Busana dan Riasan Payas Agung untuk Wanita

Untuk wanita, Payas Agung terdiri berasal dari atasan dan bawahan bersama dengan warna dan corak yang mewah khas Bali. Atasannya disebut angkin prada (serupa stagen) yang disempurnakan selendang yang disampirkan di bahu. Bawahan bersifat songket khas Bali yang panjangnya hingga semata kaki.

Tatanan rambut Payas Agung adalah sanggul yang dihiasi mahkota berbahan emas. Di atas sanggul ditempatkan hiasan bunga cempaka kuning, cempaka putih, dan kenanga yang disusun amat tinggi.

Tiga bunga itu melambangkan Tri Mukti. Sedangkan posisinya yang tinggi (di kepala) melambangkan kedudukan Tuhan yang tinggi dan dipercayai dalam kepercayaan Agama Hindu.

Ketiga bunga ini merupakan simbol berasal dari tiga dewa dalam kepercayaan Hindu. Jurnal Simbol Tri Murti dalam Payas Aung Pengantin Bali (Ida Ayu Gede Prayitna Dewi) menjelaskan, cempaka kuning sebagai simbol Dewa Brahma, cempaka putih melambangkan Dewa Siwa, dan kenanga adalah simbol Dewa Wisnu.

Secara keluruhan, keindahan bunga-bunga ini melambangkan kepercayaan, kepatuhan, kesucian, kesakralan, kemagisan, dan bagian berasal dari anjuran sembahyang.

Perhiasan lain yang digunakan pas mengenakan Payas Agung adalah gelang kana, petitis, badong, puspa lembo, subeng, dan lainnya di mana semua berwarna emas.

Riasan muka terhitung dibuat khas bersama dengan nilai filosifis yang dalam. Bagian dahi digambar membentuk lengkungan atau srinata. Melansir Kompas.com, pada buku Busana Adat Bali (2004) karya Anak Agung Ayu Ketut Agung, manfaat srinata adalah untuk mengoreksi bentuk dahi. Pada dahi ditempatkan bulatan kecil berwarna merah yang melambangkan keselamatan dan kesejahteraan.

Kaum pria mengenakan kamben, kampuh, dan umpal bermotif keemasan. Sama layaknya perempuan, kepalanya terhitung dihias, tetapi memakai hiasan destar atau udeng yang terbuat berasal dari kain khas bali.

Untuk melengkapi penampilannya bersama dengan Payas Agung, para pria Bali membawa sebilah keris yang dihiasi batu mulia. Selain memicu menambah kesan mewah, keris terhitung perlihatkan kekuatan.

Aksesori lainnya ada subeng, gelang kana, gelang naga satu, dan badong.

Artikel terkait: Mengenal 9 Jenis Pakaian Adat Daerah Maluku yang Sederhana dan Unik

2. Pakaian Adat Bali Payas Madya

Pakaian kebiasaan Bali Madya tertentu dikenakan pas lakukan upacara atau persembahyangan ke pura. Pada pria dan wanita, baju kebiasaan Bali Madya miliki makna atau filosofi yang berbeda.

Secara umum, baju ini mengemban rencana tapak dara atau Swastika. Penjabarannya sebagai berikut:

  • Leher ke kepala disebut Dewa Angga.
  • Pusar ke leher disebut Manusa Angga.
  • Bawah pusar ke kaki disebut Butha Angga.
  • Baju Adat Bali Payas Madya untuk Pria

Yang dikenakan pada rencana baju tradisional Bali Madya pada pria adalah:

Udeng.

Merupakan kain penutup kepala yang diikat berasal dari berasal dari dua sisi, yaitu ujung kanan dan ujung kiri. Kedua segi itu melambangkan negatif dan positif di mana setelah saling berjumpa keduanya bakal menjadi netral. Udeng terhitung melambangkan pengendalian diri. Umumnya ada tiga tipe udeng di Bali. Yaitu, Udeng Jejateran (dikenakan pas ke kuil dan aktivitas sosial), Udeng Kepak Dara (dikenakan para raja), dan Udeng Beblatukan (dikenakan pemimpin agama).

Kemeja.

Kemeja putih yang melambangkan kesucian dikenakan pas mampir ke pura atau sembahyang. Sedangkan kemeja hitam melambangkan berkabung, biasa dikenakan pas menghadiri upacara Ngaben (upacara kematian).

Kamben.

Kamben adalah kain panjang yang digunakan sebagai bawahan untuk menutupi pinggang hingga sejengkal di atas telapak kaki.

Sama layaknya udeng, kamben terhitung dililit berasal dari kiri ke kanan. Ini mendefinisikan laki-laki harus memegang kebenaran atau dharma. Posisi kamben yang sejengkal di atas telapak kaki melambangkan laki-laki harus melangkah lebih jauh gara-gara tanggung jawab yang diembannya. Lelancingan atau ujung kain yang menyentuh tanah melambangkan kejantanan dan bakti pada ibu pertiwi.

Pakaian tradisional Payas Madya untuk wanita terdiri dari:

  • Kebaya merupakan atasan yang pemilihan warna dan tujuan penggunaannya terhitung mirip layaknya kemeja pada pria.
  • Kamben. Berbeda berasal dari pria, kamben untuk wanita dililit berasal dari kanan ke kiri. Ini simbol sakti atau kekuatan penyeimbang laki-laki di mana si wanita harus sanggup melindungi pria dalam mobilisasi dharmanya.
  • Bulang atau stagen. Dikenakan setelah mengenakan kamben (sebelum kebaya). Merupakan simbol rahim, serta artinya supaya sebagai wanita harus sanggup mengontrol emosinya.
  • Selendang yang diikatkan di pinggang sebagai simbol badan yang sudah terbagi dua, yaitu Manusa Angga dan Butha Angga.
  • Gaya rambut yang dibedakan pada wanita yang belum menikah dan sudah menikah. Yang belum menikah menata rambunya tipe pusung bonjer, yaitu tipe rambut setengah diikat dan setengah dibiarkan tergerai (bagian depan). Yang sudah menikah memakai tipe sulinggih, gaya rambut yang diikat sepenuhnya menyerupai kupu-kupu berhiaskan bunga cempaka kuning, cempaka putih dan sandat.

3. Pakaian Adat Bali Nista

Pakaian kebiasaan Bali Payas Nista dikenal terhitung sebagai Payas Alit. Dalam bahasa Indonesia, ‘alit’ artinya kecil, di mana baju ini merupakan baju dalam tingkatan yang paling rendah dibandingkan dua tipe pertama.

Payas Alit kerap digunakan sehari-hari dalam aktivitas ngayah(gotong royong) dan sembahyang harian di rumah ataupun ke pura. Zaman dahulu, baju ini diperuntukkan rakyat biasa, layaknya petani atau nelayan. Meski terkesan kurang mewah, tetapi yang mengenakannya selalu keluar anggun, kok.

Ciri khas berasal dari baju ini adalah warnanya yang putih bersih. Pemakainya mengenakan udheng dan kamenuntuk pria, serta selendang dan kamenpada perempuan.

Apa pun tingkatan baju ini secara adat, ketiga baju kebiasaan Bali ini selalu cantik pas dikenakan, ya, Bray.